Bilik Belajar Murni Ramli

Pendidikan adalah hal yang sejak kecil hingga kini kudapatkan baik di sekolah, keluarga maupun lingkunganku. Tapi belum pernah kutekuni apa sebenarnya `Pendidikan` itu. Bilik ini adalah ruang belajarku memahami apa makna pendidikan yang berhasil ditangkap oleh mata dan batinku. Sebagian adalah figure pendidikan di Jepang, tempatku sekarang belajar menyelami makna kata `pendidikan`

Friday, July 21, 2006

Kepala Sekolah dan Sekolahnya

Judul artikel ini barangkali agak aneh, tapi saya baru saja mengikuti kuliah `kyouikukeieigakukenkyuu` yg artinya Studi tentang administrasi sekolah, dan terinspirasi dengan pengantar kuliah Prof. Nambu tentang sebuah sekolah SD di fushimigaoka, Aichi, prefecture Jepang.

Sekolah itu dikepalai oleh seorang kepala sekolah wanita, ini tergolong jarang di Jepang (hanya 8.5% kepsek wanita pada tahun 2003). Sekarang mungkin agak naik persentasinya, tetapi dalam hal emansipasi, Indonesia barangkali lebih maju dari Jepang. Sang Kepala sekolah seorang yang lincah, punya banyak keinginan dan ide2 cemerlang untuk memperbaiki sekolahnya yang tergolong baru. Tapi sangat disayangkan beliau lupa bahwa sekolah adalah organisasi yang terdiri dari banyak orang, yaitu guru dan murid. Pada akhirnya beliau merasa banyak ide tetapi tidak satupun terlaksana atau mendapat dukungan dengan baik. Para guru pun tidak sanggup mengkomunikasikan ini, karena seperti halnya di Indonesia, ada gap yang dimaklumi oleh kedua pihak sebagai ruang pemisah authority kedua belah pihak. Fenomena ini lebih kuat terlihat di Jepang.

Sebagai solusi, diundanglah konsultan 13 orang yang merupakan para researcher dari universitas2 di Aichi, salah satunya Prof. Nambu. Alhasil komunikasi antara kepala sekolah dan guru dibangun dengan baik, pun dengan murid dan orang tuanya. Tidak hanya itu demi mencapai tujuan terjalinnya relasi yg baik, ruang kepala sekolah terbuka bagi siapa saja. Setiap hari guru datang menyampaikan masalah si A, si B, walaupun guru2 di Jepang bekerja sangat strict, dari jam 7 pagi hingga terkadang 9 malam, tapi semuanya mengatakan senang dengan kondisi yang dibangun kepala sekolah. Murid pun tanpa sungkan mengintip dari jendela, atau masuk ruangan kepsek, bersenda gurau dengannya. Dan yang lebih mengasyikkan lagi obrolan dengan orang tua pun bisa berlangsung di depan jendela, ketika okaasan (ibu) menjemput si anak. Tahun 2003 SD menjadi percontohan bagi pengembangan sekolah2 di Jepang.

Tapi kondisi ini tidak berlangsung lama, tahun 2004 sang kepala sekolah dipindah ke sekolah lain. Dan keadaan berbalik, kepala sekolah yang baru tidak mampu meneruskan sistem yang sudah dibangun kepala sekolah yang lama, pun para guru tidak berdaya melanjutkan sistem yang selama ini mereka jalani. Akhirnya sekolah memburuk, ditandai dengan banyaknya siswa pindah ke sekolah lain.

Hal menarik di sini adalah benar yang menjadi pelopor suatu reformasi adalah satu atau dua orang, tetapi jika terjadi pengkultusan dan ketergantungan yang berlebih, maka reformasi tidak bisa langgeng. Hari ini saya pun belajar bahwa anggota sebuah organisasi, dalam hal ini sekolah, yaitu para guru pun harus belajar tentang bagaimana mendeteksi dan mengoreksi error yang ada, bekerja mandiri dan cepat tanggap dengan pergantian sistem atau management sekolah. Guru tidak hanya belajar `bagaimana harus mengajar yang baik`, karena masalah tidak hanya muncul di kelas, tetapi masalah muncul di lingkungan sekolah, di kamar mandi, di tempat bermain, di ruang makan, di koridor sekolah. Masalah tidak hanya muncul dari murid, tetapi masalah juga muncul dari sesama guru.

Tapi teori di atas bukan hal yang gampang untuk diterapkan. Guru tidak saja membutuhkan training khusus, tetapi pun harus ditempa pengalaman. Training dalam hal ini bukan berupa kuliah, tetapi studi banding, studi kasus. Ini barangkali yang sangat lemah baik di Jepang maupun di Indonesia, sedikit sekali budget sekolah untuk memandaikan guru.

Satu lagi hal yang menarik dalam kasus di atas, yaitu transfer atau mutasi kepala sekolah. Saya pikir ada ketidaktrasparanan kerja antara Educational board yang berfungsi mengangkat/memberhentikan kepala sekolah, dengan sekolah2 yang berada di bawah pengawasannya. Seorang kepala sekolah dari sebuah SMA ternama di Nagano prefecture, pernah mengatakan : `Educational Board harus menjadikan kami penting,berharga`, kalimat itu dia ucapkan karena sebentar lagi dia harus mengalami mutasi, sementara reformasi di sekolahnya belum berhasil. Tampaknya regulasi pergiliran kepala sekolah harus dipikirkan lebih jauh kapan sebaiknya seorang kepala sekolah layak dimutasi ? Ini hanya bisa diketahui jika para pengawas pendidikan di Educational Board tidak hanya duduk-duduk membahas policy Menteri Pendidikan, tetapi harus lebih sering datang ke sekolah.

Thursday, July 20, 2006

Apakah Ilmu saya berguna ?

Beberapa waktu yg lalu teman saya seorang China yang sangat tertarik sekali dengan Islam mengajak saya untuk makan siang bersama sekaligus mendiskusikan tentang Islam tentunya dan masa depan kami.

Salah satu pertanyaan yang sering dia ajukan, `apa yang akan kamu kerjakan sepulang ke tanah air nantinya ?` Pertanyaan ini sebenarnya tidak hanya dari dia, tp sudah sering sekali saya dengar dari orang Jepang atau orang Indonesia lainnya. Ketika saya jawab, `saya akan kembali mengabdi pada sekolah saya (pesantren/madrasah). Hampir semuanya menyayangkan rencana tersebut. `Mengapa tidak mencari job yg lebih berkelas ? Mengapa tidak mencoba apply pekerjaan di Jepang ? Coba apply NGO international ! dan sebagainya.

Barangkali saya banyak berubah setelah berada di Jepang selama hampir 2 tahun. Yang paling membuat saya berubah pemikiran, saya pikir para guru, kepala sekolah yang sering saya amati, ajak ngobrol atau baca kisah mereka. Dari mereka saya dibawa ke alam nyata ttg realita pendidikan. Mereka pun menyadarkan saya tentang penghormatan yang seharusnya saya berikan kepada pejuang2 pendidikan di Indonesia. Bahkan Professor saya begitu intensnya mengingatkan saya untuk berfikir dan memecahkan masalah dari akar, tidak asal menjiplak teori dari luar. Bangsa Jepang punya pola pikir sendiri, mereka lebih tahu kondisi di Jepang, tentunya mereka pun tahun bagaimana harus maju dengan potensi sendiri. Demikian pula dengan bangsa Indonesia.

Dari merekalah, saya semakin menggebu untuk mempelajari bagaimana mereka bisa maju dengan pola pikir lokal. Saya pun sangat bergairah untuk mengunjungi sekolah2 di desa/kota di Indonesia, melihat dari dekat apa masalah yg dihadapi para guru, kepala sekolah ? Kenapa mereka tidak bisa bekerja sama dg pemerintah, kenapa masyarakat, orang tua tidak bisa berparisipasi sekalipun pemerintah sudah mencanangkan proyek School Based Management ?
Mungkin saya tidak cukup teori/ilmu untuk membantu mereka, tp belajar pendidikan atau menjadi ahli di bidang pendidikan sama saja dengan dokter penyakit. Mereka semakin ahli ketika semakin sering bertemu dg orang sakit yg penyakitnya bermacam2 pula.

Jadi saya pikir saya akan menjadi faqih di bidang pendidikan jika saya semakin sering berinteraksi dengan para guru, kepala sekolah dan stafnya, pun para murid. Saya tidak tertantang untuk membuat sekolah alternatif, tetapi saya pro kepada sekolah/madrasah yang ada saat ini. Saya ingin termasuk dalam barisan guru,siswa,kepala sekolah yang `ingin maju` dengan potensi yang mereka miliki. Saya ingin menjadi `pelayan` bagi siapa saja (anak) yang ingin merasakan nikmatnya `mengetahui sesuatu ilmu` melalui pelajaran di sekolah. Yang kelak ketika mereka dewasa mereka bisa berkata `Alhamdulillah, saya diberi nikmat menjadi seseorang yang tahu dari keadaan tidak tahu`.

Jadi, apakah sayang jika ilmu selevel Doktor dimanfaatkan untuk hal di atas ?

Friday, June 16, 2006

Penelitian yang Mubazir

Dari mana harus memulai penelitian ? Apa yang harus diteliti ? Siapa yang harus dijadikan objek penelitian ?

Pertanyaan-2 tersebut adalah hal yang tidak mudah untuk dijawab.
Pembelajaran saya akhir2 ini dipenuhi dengan ide `research`. Di kelas, diskusi, dan seminar yang saya hadiri, semuanya menampakkan nuansa ketidakpercayaan diri tentang penelitian yang akan,sedang atau telah dilakukan.

Ketika saya kuliah di IPB, banyak sekali penelitian bermutu yang dihasilkan oleh mahasiswa, dosen yang ternyata tak bernilai apa2 ketika saya bertemu muka dengan petani. Banyak karya kita yang tidak bisa mereka aplikasi, tidak membumi. Universitas bagai menara gading.
Pun ketika saat ini saya berada di Jepang, begitu banyak penelitian tentang pendidikan yang telah dilakukan, tetapi para guru di sekolah2 tidak mengetahuinya. kalaupun mereka mengetahuinya, tak dpat pula mereka menerapkannya.

Banyak teori tentang perbaikan dan pengembangan sekolah yang disusun sehingga menjadi buku panduan, lengkap dengan struktur dan step penerapannya. Tetapi itupun tidak juga menarik minat para pendidik di sekolah2.

Penelitian semestinya berakar dari masalah yang dihadapi oleh guru, murid atau orang tua di sekolah. Ketika sebagian besar siswa tidak dapat lulus ujian, maka perlu diteliti mengapa dan bagaimana memecahkan masalah ini. Ketika angka bunuh diri, absensi bahkan keengganan bersekolah meningkat, maka harus dibuat penelitian dari sekolah dan keluarga. Pun ketika organisasi sekolah tidak bisa berkembang baik, maka teori seharusnya lahir dari permasalahan yang dihadapi di sekolah.

Jika penelitian berbasis sekolah dilakukan, maka tentunya hasil yang diperoleh tidak bisa berlaku sama di seluruh negeri, sebab objek penelitian memiliki kondisi yang berbeda. Sama halnya dengan ketika semua orang mengatakan School Based Management adalah sistem yang jempolan saat ini dan hendaknya diterapkan di semua negara termasuk Indonesia saat ini, maka yang akan terjadi adalah kebingungan di kalangan para pendidik di lapangan.

Agar penelitian tidak mubazir, maka hendaklah bersumber dari fakta dan masalah yang nyata.

Monday, June 05, 2006

Apa yang salah dengan Sekolah Kita ?

......Dia menyebutkan maraknya program bimbingan tes di sekolah itu juga merupakan sesuatu yang keliru dan melenceng dari peran sebenarnya sekolah.
....... "Alokasi jam belajar di sekolah sebenarnya sudah cukup untuk menyiapkan anak didik menghadapi Ujian Nasional, tanpa perlu ikut bimbingan tes. Kalau siswa merasa masih ada yang kurang serta membutuhkan bimbingan tes, justru hal itu yang menjadi pertanyaan, apakah ada sesuatu yang salah di sekolah tersebut?," katanya. (rri-hf)
....... Sumber : RRI online Rabu, 17 Mei 2006, 06:04 WIB
http://www.rri-online.com/modules.php?name=Artikel&sid=21848

Cuplikan wawancara di atas adalah hasil wawancara RRI dengan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Bedjo Sujanto yang diposting di milis pakguruonline.yahoogroups.com , 4 Juni 2006.

Petanyaan/Pernyataan Pak rektor sejalan dengan pikiran saya beberapa bulan yang lalu, saya begitu kesal dengan sekolah, dengan para guru yang gagal atau para guru yang tidak mau maju. Para guru yang hanya memikirkan uang, kepala sekolah yang di kepalanya hanya ada rencana mengoleksi dana sebanyak mungkin, lupa bahwa sekolah adalah organisasi non profit, institusi untuk mendidik manusia.
Tapi belakangan ini saya mulai rethinking pernyataan tersebut.

Kasus ujian nasional tidak hanya diterapkan di Indonesia, di Jepang pun hal yang sama harus dihadapi oleh anak SMA, hanya bedanya ujian nasional di Jepang adalah untuk mendapatkan kursi di PT, bukan sebagai tolok ukur kelulusan (lih. tulisan di blogger ini ttg Ujian Nasional) seperti halnya di Indonesia.

Sejak awal diterapkan hingga kini, tindakan `jisatsu` (bunuh diri) merebak di seantero Jepang. Tentu saja bukan hanya Ujian Nasional itu yang menjadi faktor pemicunya, tetapi kondisi belajar di sekolah yang dibuat dengan tujuan lolos ujian nasional masuk PT, membuat siswa sangat tertekan. Tiap hari PR menumpuk, pembelajaran di sekolah pun sangat strict dengan beban tugas yang berat. Dengan metode pembelajaran seperti itu saja, dianggap belum menjamin kelulusan siswa dalam ujian nanti, sehingga mereka pun terpaksa pergi ke `juku` (cram school) untuk belajar secara privat mata pelajaran yang diujikan.

Pemerintah Jepang akhirnya berusaha melonggarkan tekanan ini dengan memperkenalkan `shougotekinakamoku` dan `yutori kyouiku`. Kata yang pertama bermakna integrated course, dimana siswa belajar lebih banyak ttg masa depannya, lingkungannya dan kehidupan manusia di sekitarnya. Pelajaran ini sangat kental efeknya dalam menjadikan generasi muda Jepang tidak sekedar kaya di pemikiran tetapi peduli dengan orang sekitarnya. Sedangkan yutori kyouiku adalah memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi kepada siswa dalam mengembangkan dirinya. Dengan program ini siswa biasanya sudah dapat mengukur apakah dia dapat lolos ujian nasional atau tidak ? Jika tidak, maka siswa boleh memilih kelanjutan studinya apakah masuk private univ, atau college school. Selanjutnya dia tinggal menekuni bidang studi apa yang terkait dengan pilihannya itu.

Kedua program ini pun masih perlu ditinjau karena mendatangkan dampak negatif lainnya, yaitu menurunnya prestasi belajar anak2 Jepang, dan menurunnya semangat kompetisi di antara mereka.

Tetapi, dengan kondisi ini saya pikir, sekolah barangkali sudah menerapkan proses belajar mengajar yang benar, sekolah mungkin tidak salah. Bahkan salah kalau sekolah hanya dijadikan arena kawah candradimuka untuk menggembleng siswa supaya lulus ujian nasional.

Sekolah menurut saya adalah tempat mendidik supaya anak menjadi `orang dewasa` yang dapat memainkan perannya di masyarakat. Terlalu ideal barangkali, tetapi jika kembali kepada makna pendidikan, maka jelaslah bahwa tidak hanya otak yang harus dididik, tetapi organ lain dari anak pun harus dikembangkan. Saya kutip perkataan Prof.Ueda ketika menafsirkan tujuan pendidikan di sekolah2 di Jepang, `pendidikan adalah mengembangkan tubuh, otak, dan jiwa/hati anak`.

Pendidikan di Jepang barangkali berbeda dengan pendidikan di dunia barat yang lebih menitikberatkan kepada pengembangan otak, tetapi tujuan pendidikan di Jepang ditetapkan berdasarkan fakta di lapang, bahwa anak2 Jepang harus tumbuh sebagai manusia Jepang sekaligus manusia dunia.

Pernyataan lain dalam wawancara di atas yang menurut saya pun salah adalah : ` mengapa harus ikut les untuk lolos ujian nasional ?
Pernyataan ini sedikit banyak menggugat profesi guru. Dengan kata lain guru tidak berhasil mengajar siswa, proses belajar di sekolah telah gagal ! Sebagai guru, tentu saja saya tidak mau diklaim gagal, saya ingin mengajak untuk merenungkan kembali apa sebenarnya tujuan pendidikan menengah ? Apakah sekedar lulus ujian nasional ? Sudah saya cari dalam pasal2 UU Sisdiknas 2003, bukan ujian nasional tujuan pendidikan menengah di Indonesia, tetapi lebih kepada menyiapkan anak didik, orang2 muda Indonesia usia 17-18 tahun untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya, menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Dan ini menjadi bias maknanya ketika guru dihadapkan pada target lulus ujian nasional 100%. Kami para guru akhirnya lalai dari tujuan utama kami untuk `mendidik` tapi kami cenderung untuk `mengajar` bagaimana agar target lulus tercapai. Tentu saja guru sudah berusaha untuk sedekat mungkin dengan materi ujian, tetapi tetap saja kami tidak bisa mengajar ala guru privat yang menjejali anak dengan teknik tercepat, metode teringkas ketika dihadapkan pada soal ujian. Karena materi yang diajarkan di sekolah tersusun dalam silabi pembelajaran berdasarkan kurikulum dan plan yang sudah ditetapkan awal tahun. Dan parahnya lagi, materi ajar terlalu overload, waktu kami habis untuk mengejar penuntasan seluruh materi ajar, tidak ada waktu memperkenalkan trik kepada anak. Jadi kami tidak bisa menyalahkan siswa jika mereka menggunakan waktu di luar sekolah, untuk les privat.

Sebagai guru MA saya yakin 99% materi ujian sudah saya ajarkan kepada siswa, tetapi kondisi dan daya tangkap siswa tidak sama. Bahkan kondisi ketika mereka ujian pun harus dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mengerjakan soal2 ujian. Saya memang merasa gagal sebagai guru, ketika ada murid saya yang tidak lulus, walaupun hanya satu orang. Walaupun tidak ada dari siswa kami yang ikut les privat, tetapi kondisi les privat yang marak membuat saya malu, mengaku sebagai guru.

Tetapi tidak layak kiranya mengkambinghitamkan guru sebagai pemicu ketidaklolosan siswa. Saya justru mempertanyakan para penyusun materi ujian. Siapakah mereka sebenarnya ? Apakah mereka para guru atau mantan guru yang mengajar di SMA ? ataukah mereka hanyalah orang2 yang melihat kondisi pembelajaran di sekolah melalui report, dan mulai membuat soal berdasarkan textbook, tanpa pernah sekali pun bagaimana materi ujian itu diajarkan di sekolah ? Bagaimana pencapaian siswa, pemahaman siswa terhadap materi tersebut ? Saya pun ingin mengkambinghitamkan para penyusun textbook, pihak diknas yang merelease textbook tersebut. Buku2 ajar tersebut tidak berkaitan dengan tujuan pendidikan yang tertera di UU Sisdiknas 2006. Kami belajar dan mengajar sesuatu yang di awang2, yang ada di negeri entah berantah, jauh dari apa yang dilihat mata siswa, didengar oleh telinga mereka, diraba oleh tangan mereka, dicium oleh hidung, dan dirasakan oleh lidah, dengan kata lain, textbook mengajarkan ttg kehidupan manusia/alam lain, bukan memperkenalkan kehidupan sehari2 siswa sebenarnya. Jadi bagaimana dapat mengharapkan mereka mengerti sesuatu jika kita hanya mendidik otaknya, tanpa melatih organ tubuh yang lain supaya sinkron dengan kerja otak ?

Jadi apa yang salah dengan sekolah kita? Apakah guru ? kepala sekolah ? kurikulum ?
Yang salah bukan mereka, yang salah adalah kita (pemerintah) yang menjiplak cara orang lain, mengintroduksi sistem barat tanpa mengasimilasikannya dengan fakta sekolah, fakta murid, fakta alam, fakta budaya, fakta agama, fakta daya pikir, dan aneka fakta yang lain.....





Thursday, May 18, 2006

Menilai Mutu Pendidikan

Ujian itu perlu atau tidak ?

Pertanyaan ini selalu menjadi polemik di negara manapun antara memilih `melaksanakannya atau tidak, atau me-nasionalkannya or me-lokalkannya.

Sistem ujian/ulangan sekolah2 di Jepang menarik untuk kita cermati.
Pendidikan dasar (shougakkou) tidak mengenal ujian kenaikan kelas, tetapi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP masih termasuk kelompok compulsoy education, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.
Lalu bagaimana menilai mutu pendidikan ?

Tentu saja guru tetap melakukan ulangan sekali2 untuk mengecek daya tangkap siswa. Dan penilaian ulangan pun tidak dengan angka tetapi dengan huruf : A, B, C, kecuali untuk matematika. Dari kelas 4 hingga kelas 6 juga dilakukan test IQ untuk melihat kemampuan dasar siswa. Data ini dipakai bukan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan hasil test IQ-nya, tetapi untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa dengan kemampuan di atas normal atau di bawah normal. Perlu diketahui, siswa2 di Jepang tidak dikelompokkan berdasarkan kepandaian, tetapi semua anak dianggap `bisa` mengikuti pelajaran, sehingga kelas berisi siswa dengan beragam kemampuan akademik.

Compulsory Education di Jepang dilaksanakan dengan prinsip memberikan akses penuh kepada semua anak untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun (SD dan SMP) dengan menggratiskan tuition fee, dan mewajibkan orang tua untuk menyekolahkan anak (ditetapkan dalam Fundamental Law of Education). Untuk memudahkan akses, maka di setiap distrik didirikan SD dan SMP walaupun daerah kampung dan siswanya minim (per kelas 10-11 siswa). Orang tua pun tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain, jadi selama masa compulsory education, anak bersekolah di distrik masing2. Tentu saja mutu sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan sekolah, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan `sama`, sebab Ministry of Education menkondisikan equality di semua sekolah. Saat ini tengah digalakkan program reformasi yang memberi kesempatan kepada sekolah untuk berkreasi mengembangkan proses pendidikannya, tetapi tetap saja dalam pantauan MOE.

Di tingkat SMP dan SMA, sama seperti di Indonesia, ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau pun nasional. Di beberapa prefecture yang melaksanakan ujian, final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di setiap prefektur. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test, tapi akumulasi dari nilai test sehari2, ekstra kurikuler, mid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.

Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar, artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefektur. Di Aichi prefecture, SMA-SMA dikelompokkan dengan pengelompokan A, B. Pengelompokan tersebut dibuat dalam proses memilih SMA. Setiap siswa dapat memilih satu sekolah di kelompok A dan satu sekolah di kelompok B. Jika si siswa lulus dalam kelompok A, maka secara otomatis dia gugur dari kelompok B. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang, English, Math, Social Studies, dan Science. Di level ini siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.

Seperti dipaparkan di atas, siswa SMA tidak mengikuti ujian kelulusan secara nasional, tetapi ada beberapa prefecture yang melaksanakan ujian. Penilaian kelulusan siswa berbeda di setiap prefecture. Mengingat angka Drop out siswa SMA meningkat di tahun 1990-an, maka beberapa sekolah tidak mengadakan ujian akhir, jadi kelulusan hanya berdasarkan hasil ujian harian.


Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk PT dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional- soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima subject, sama seperti ujian masuk SMA-, selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing2 universitas, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap PT. Seperti halnya di Indonesia, skor hasil UMPTN tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan via koran, TV atau internet, sehingga siswa dapat mengira2 sendiri berapa total score yg didapat. Siswa yang memilih Universitas dg skor tinggi, tapi ternyata skornya tidak memdai, dapat mengacu ke pilihan universitas ke-2. Namun jika skornya tidak mencukupi, maka siswa tidak dapat masuk Universitas. Selanjutnya dia dapat mengikuti ujian masuk PT swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou)

Penilain mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan PT, tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.

Saat ini gaung autonomy daerah makin kencang di Jepang, seberapa besar tarik ulur antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam sektor pendidikan menjadi salah satu pengamatan yang menarik bagi saya pribadi. Nuansa kebebasan untuk mengembangkan pendidikan berdasarkan potensi dan karakter daerah sangat kental terlihat ketika saya mengunjungi sekolah2 di Jepang.




Sunday, May 14, 2006

To tell the truth....

A Critic for history education

In the class of `Education in Japan` lectured by Prof Robert Aspinall, a visiting Professor from Shiga University, we discussed about Japanese education system, history, phenomena, future, etc. This week we have a make up class and the topic was nihonshi (the history education of Japanese). One of my friend from US presented the interesting concepts, quoted from the Michael Billig`s book, Banal Nationalism, which gave us an inspiration to rethink the concept of nationalism and history of our own nation and how the learning process is running out in the school.

It is very riveting when we aware that all nations in the world introduce and implant the concept of nationalism to the young generation (children) through nearly the same way, such as, stating the pledge of allegiance, flying the flag, singing the national anthem and telling the good history of their nation. Government will keep, continue, and perpetuate those kind of methods in the primary education level, because that is children who can remember and keep in mind for a long time what they studied, experienced, noticed, familiarized and habituated.

But it is unfair if nation through the teacher teach and implant them the wrong, manipulated, and false history instead of telling the truth of what people, their ancestor, did in the past. Because the foolish, violence, criminals, which you try to wrap it carefully and cover it from the outsider, will be opened and proved by somebody later. At that situation children will confused, disoriented, flustered, lost their identity and confidence, and finally blamed the adult for hidden the truth. That is only the time whether to tell them now or wait till they can understand the reality wisely.

History is the way to tell the people about your life subjectively, because you tend to choose the good and proud part of your life. Neither people nor country, they don’t want be ashamed of, be mocked, ridiculed, and humiliated through their bad history. Therefore the purpose of history education is to grow and build the proud and self confidence as a nation in international relationship; however, in fact, there were many ashamed acts of people that should be covered as an untold story.

What Japanese government facing today is how to keep the prestigious name of the nation in children mind, which is hard, stressful, and full of guilty. Japanese government felt that it is disadvantage effort to tell the children what Japanese soldiers did to Indonesian, Korean, and Chinese people during the WW II. Therefore, children never learn about the true history of Japan from their textbooks, and this policy harvesting the fruit of protests in China, South Korea, and Indonesia in which bringing the relationship between those countries being worst. One of the very controversial movies, MERDEKA, directed by Yukio Fuji in 2001 is a good example how Japanese try to manipulate the history of Indonesia. Through that movie, the director depicts their soldiers fighting for Indonesian independence, is really far from the right. As Syahri Sadikin, an incumbent councilor at the Indonesian Embassy in Tokyo at that time, said that in reality, only a handful of Japanese soldiers remained after the war, and that it was unclear from historical records whether they opposed the Europeans to free the colony or only to keep it within their own sphere of influence. The Netherlands ruled the Dutch East Indies for about 350 years until 1942, when the country was taken over by the invading Japanese military. The Dutch regained some power after the end of the war in 1945 until completely withdrawing four years later. During their three-year occupation, the Japanese subjected the population to forced labor and sexual servitude. Indonesian people never ever considered the Japanese was a savior from colonial power.

Japanese government endeavor to ask apologize by helping the development of occupied countries through many kinds of program, such as the scholarship, soft loan, training, and social aids, but still not enough for deleting the bad memory of the suffering people during the war.

As a young generation, I try to understand the war situation in 1940`s rationally. I don’t want to blame Japanese or other people who participated in. Not because I got the scholarship from Japanese Government, but it was an era of war that nobody could resist from doing immoral acts whatever the purpose of. During the war, the wise thinking is lost, the normal feeling as a human being is also gone. The rest is only the barbarity, willing to kill, oppressing, and the animal survival imitating. It is very bad condition that bring human honor and status lower than animal. No body likes this, and if we consider and understand those histories deeply, there is no war again in the world.

But my questions are why there are still many wars nowadays, why the occupying countries in WWII still want to repeat their ashamed acts? Why US, England, France, Japan, Germany, Australia and other countries made a conspiracy attacking Iraq ? Are the history not enough to teach them about the war? Have those people also think and ready to tell their children, the next generation, about what their hands doing now ?

EDUCATION for SUSTAINABLE DEVELOPMENT vs SUSTAINING for EDUCATION

At the end of June 2005, an international workshop for education for sustainable development (ESD) was convened in Nagoya University, organized by two institutions, United Nation University (UNU) and UNESCO. The interesting theme promoting globalization and ESD was interpreted by familiar names that have been recorded internationally as the motivators of sustainable development (SD), such as Emil Salim, who has persistently and seriously strived in nurturing environmental issues in Indonesia either when he was be incumbent Minister of Environment in Suharto era or as a Professor in University of Indonesia. The second name was Charles Hopkins who is currently the UNESCO Chair at York University in Toronto, where coordinating international network of reorientation of elementary and secondary school teachers from 35 countries to address SD. Another was Carl Lindberg, an advisor of UNESCO for ESD in 2004 and currently as a former Deputy State Secretary of the Ministry of Education and Science, Sweden.

In December 2002, resolution 57/254 on the United Nations Decade of Education for Sustainable Development (2005-2014) was adopted by the United Nations General Assembly and UNESCO was designated as lead agency for the promotion of the Decade. Education for sustainable development has been defined narrowly as an environmental education only. In fact, Education for sustainable development is a life-wide and lifelong endeavour which challenges individuals, institutions and societies to view tomorrow as a day that belongs to all of us, or it will not belong to anyone.It is education to sustain the culture, society, heritage and others as well as sustain the environment, in order to promote opportunity and better life for the next generation. Mamoru Mohri, an astronaut and Executive Director of National Museum of Emerging Science and Innovation, Japan at the first day of the workshop gave a different point of view to see our earth in which all creatures: human, plant, animal, micro organism live and share the water, land, and air. Mohri had brought our imagination beyond to see our earth from the moon that emerged our consciousness of the fact that our earth being old and need serious, persistent, continuous, not only willingness but also endeavor and effort.

At the second day of the workshop, 29 June, the committee provided three working groups to discuss in detail the theme; E-learning for SD; Local and Regional Initiative on ESD; and Higher Education and ESD. I was interested at the second topic, because at that time I was thinking that it closely related to my job as a teacher in pesantren located in the rural area of Indonesia and recently have many problems in environmental issues. I had expected before what can I got from the forum were the practical examples, guidance, and experiences share by participants who have been successfully established ESD in their countries. Since most of the presenters came from university, the atmosphere of higher education was in the ascendancy the discussion forum. Rietje van Dam Mieras and K.C. Koshy who are respectively from Open University of the Netherlands, UNU, and University of the South Pacific tend to explore the regional cooperation called the Regional Center of Expertise (RCE) in the European region and the local activities in South Pacific countries where put the university on a center development of ESD. In different perspective the marvelous, fantastic plan of Universiti Sains Malaysia (USM) in address of ESD was introduced interestingly by Dzulkifli Abdul Razak, the Vice Counselor of USM. His explanation also perfectly figured the progressive and serious steps of Malaysia reforming their educational system towards the globalization era. USM seems to concentrate consistently building auto-reform of the system and circumstance of internal campus. The project was elaborated compulsively as what they called the Onion model that figured the sequence steps, interpreted as a layer of onion, of USM toward the core aim, core of onion, of the USM`s point of view of ESD issue. They also have a transdisciplinary cluster approach consisted of the idea to build 6 kinds of Garden: Garden of knowledge, nature, heritage, vista, people, and garden of tomorrow. Gaining the core successfully, they go to open their house allowing the society, government, other institutions to know, study, transform, evaluate and also provide some help and offer good cooperation for the spreading of the idea of ESD. This project had brought USM as one of the participants who got an award from UNU/UNESCO as an appreciation of their tremendous job.

Another awesome job also presented by Japanese NGO, Ehime Global Network, Japanese Commission on the decade of ESD, represented by one the board member, Yoshiko Takeuchi Murphy who explained further the activities of Japanese introducing the idea of ESD locally and abroad related to peace building issue, environmental protection, and cross cultural understanding. One of their international cooperation works was shipping Mozambique people abandoned bicycles in order to barter for the weapons that they still have because of the civil war.

Political issue also emerged from the forum asking the intentional attention and seriousness of politician/government to stimulate and trigger the ESD issues. Proving this, UNU/UNESCO also invited the Mayor of Okayama City to get an award for his successful work to encourage his citizens and NGO taking a part in his project which aims to increase awareness and participation in environmental conservation efforts. About 830 groups comprising about 30,000 people joined this project and did a good networking to campaign their idea to over 660,000 people in Okayama. At The World Summit on Sustainable Development in Johannesburg, 2002, Okayama city had an opportunity to showcase the framework of Environmental Partnership Project. Recently the organizations work in ESD there has been promoting the Okayama ESD Project, which the final goal is to establish a Regional Center of Expertise on ESD along the lines proposed by UNU since 2004.

The concept of ESD is not a new issue in Indonesia. There were some projects sponsored by UNESCO, UNU and other NGOs such as Hanns Seidel Foundation with its Environmental program in Prigen, East Java, 2005; Toyota Environmental Activities Grant Program, 2001-2003. But we still need the seriousness of government to motivate and activate the whole elements of society to involve in this program. Since Indonesia is a very huge, heterogenic country, it is not an easy work to formulate the concept of ESD as a model for whole provinces. As UNESCO said that the concept of ESD cannot be applied in a simple, universal model. There will be nuanced differences according to local contexts, priorities and approaches. Each country has to define its own priorities and actions. The goals, emphases and processes must, therefore, be locally defined to meet the local environmental, social and economic conditions in culturally appropriate ways. Education for sustainable development is equally relevant and critical for both developed and developing countries.
Not only paying attention to ESD but the most crucial problem in Indonesia especially in a rural area is how to sustain for education. Government through the Minister of National Education has promoted 9 years compulsory education for children age 7-15 years old. In fact, the large area and a plenty of pluralism impact to the difficulties and the challenges that have been faced in practicing and promoting that concept. Most of children at that age must help their parents to earn money, to do housework substituting mother responsibility. Therefore, government should provide a free education, an ease and conducive circumstance for parents to get a satisfying job and salary, subsidy for basic needs such as food, oil, housing and transportation fare. On the other hand education in urban area also face the same problem with different reasons. The enrollment of upper secondary education and higher education in Indonesia is very low (51% &11%). Many reasons have come out, one of them is the high expenditure for higher education, and other is insufficient and unsatisfied workplace for who graduated from higher education. Most of the young people nowadays think to get money and popularity easily, quickly, and without hard working. That is why most of them have a dream to be an entertainment figures that everybody can do without special education, rather than think to fulfill what society needs or get more prestigious status in society. Therefore, the challenge should be met by government is to encourage students to attend the schools, persuade them to continue their study into higher level.

ESD concept and Sustaining for education can be done together in the same time. Socializing the concept of ESD is not only the duty of NGO that plays a main role in Indonesia recently, but the government should come up with a definite policy of ESD for the whole elements of society. ESD concept has a relation with economists, politicians, technicians, educators, farmers, housewives, etc. ESD is not only introduced to children but adult people, parents also need to learn it. Students can put into practice the ESD concept in school but cannot sustain to enact it when they go back and find the fact that their parents do not understand and practice what they got in the school. They also notice adult people surrounding them do the wrong and bad thing. So, how can be sustained in this situation?

Rewrite from the article in my homepage : http://www.geocities.com/moernier/ESD.html

Membenahi Pesantren

Kalau Al-Quran sudah kita akui sebagai pedoman hidup, maka sebagai muslim sepantasnya kita tidak sekedar membacanya tapi mempelajari kandungan isinya dan berusaha mengamalkan isinya. Di Pesantren kami belajar dan mengajarkan ini, tapi masih banyak yang harus dibenahi....(rewrite artikel di homepage : http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/pesantren1.html )

Pondok Pesantren (PP) dapat dikatakan sebagai cikal bakal model pendidikan Islam di Indonesia. Ada kurang lebih 14.600 pesantren di Indonesia yg tercatat di DEPAG, yang kebanyakan berada di rural area. Pesantren juga menjadi andalan orang tua yg tidak memiliki cukup dana untuk menyekolahkan anaknya. Sebagian besar pesantren tidak bersifat komersial, sejalan dg ajaran Islam yg menganjurkan agar mempermudah jalan bagi para penuntut ilmu.Dahulu pesantren lahir tanpa, lisensi dari pemerintah, tp sekarang ini kebebasan untuk mendirikan pesantren sepertinya agak dibatasi sejalan dg isu terorisme yg dikaitkan dg aktivitas di pesantren. Beberapa pesantren yg diselidiki, dimatai2 bahkan tak jarang dituduh tanpa ada bukti sbg antek teroris.

Banyak pesantren yg telah bermetamorfosis menjadi lebih modern dg menambahkan kurikulum diknas ke dalam madrasah2 yg mereka dirikan, pun pesantren yg mengajarkan keprofesian tertentu kpd santri, seperti Pesantren Darul Fallah, Darun Najah, Hidayatullah, dll. Fenomena ini membuktikan bhw pesantren tidak mau ketinggalan kereta kemajuan.Namun tetap saja kita tdk bisa memungkiri data yg menunjukkan bhw kualitas lulusan pesantren atau madrasah berada di bawah lulusan sekolah umum, terlihat dari angka UAN dan kelulusan di UMPTN. Opini masyarakat pun belum bisa kita dobrak. Masih beredar anggapan yg meremehkan pesantren sbg lembaga pendidikan yg bonafide.

Sekarang muncul ghirah baru di kalangan mahasiswa kita untuk lebih memperdalam Islam. (Insya Allah saya akan bahas dalam lain kesempatan.). Fenomena ini pun seharusnya memicu pesantren untuk bergiat.Saya sebagai orang pesantren ingin melakukan autokritik krn selama ini kebanyakan kritik muncul dr orang di luar pesantren.

Sedikit banyak yg akan sy ceritakan mungkin agak subjektif, shg tidak bisa digeneralisasikan dg pesantren yg lain Saya tdk akan menjelaskan panjang lebar ttg pesantren tempat saya mengajar krn sedikit telah sy bahas dlm profile.Ada beberapa hal yg menjadi highlight pembahasan yaitu :
1. Subject yg diajarkan dan metode pembelajaran
2. Managemen dan Pendanaan pesantren (akan saya bahas dalam tulisan yg lain)
3. Pesantren dan society (akan saya bahas dalam tulisan lain)

Subject yang diajarkan di Pesantren tidak saja banyak tapi pun tumpang tindih. Dalam kasus PP yang mengintegrasikan kurikulum Diknas, Depag dan local content, seperti PP Darul Fallah, terdapat mata ajaran yg sebenarnya sama isinya, misalnya dalam kurikulum Depag tdpt materi Aqidah Akhlaq, di kurikulum PP pun tdpt Akhlakul banin wal banaat. Pun materi Bahasa Arab sejalan dg pelajaran mahfuuzot, mutholaah, nahwu shorof di pesantren. Jika materi di pesantren dimaksudkan untuk menambah bobot materi Depag, mk seharusnya tdk ada duplikasi dan outcome-nya semestinya siswa sangat fasih berbahasa Arab. Demikian pula dg materi Fikih, siswa pun seharusnya menjadi siswa yg benar2 plus.

Yang patut direform adalah : content dan sistem evaluasi yg harus terdefinisikan dg jelas. Jika suatu subject adlh alat untuk mempelajari ilmu yg lain, misal bahasa, mk target yg hrs diraih siswa hrs jelas. Misal dg menguasai Bhs Arab, siswa dpt memahami makna Al-Qur'an, membaca hadits, memahami literatur Arab, berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sistem evaluasi hrs dapat mengukur ability dan achievement siswa. Barangkali patut pula memikirkan test kemampuan bahasa semacam TOEFL or TOIEC untuk bhs Arab. Fikih dan akhlaq seharusnya bisa diukur dg pengamalan ibadah dan personality siswa. Benarkah dia sholat minimal 5 kali sehari, bagaimana sikap, motivasinya dlm belajar, relasinya dg teman, guru dan orang sekitarnya.

Evaluasi pembelajaran Al-Qur'an juga semestinya terukur dg betulkah tajwid siswa, lancarkah bacaannya, berapa jam dia membaca Al-Quran per hari, berapa juz yg dia hafal.Untuk mewujudkan itu semua, maka guru pun harus direform. Guru harus ditraining agar memahami betul apa tujuan subject yg diajarkannya, bgmn mencapainya, dan bgm mengevaluasinya. Harus pula mulai dikembangkan Teacher Appraisal System. Selain tentunya memberikan gaji yg layak kpd mereka. Namun hal terakhir ini sepertinya sulit diterapkan di pesantren krn kehidupan zuhud yg mereka jalani. Banyak pelajaran berharga yg saya dapati dalam diri asaatidz yg mengabdi di pesantren. Kesederhanaan hidup salah satunya. Bahwa rizki dari Allah sebenarnya sangat cukup. Yang terpenting kembangkan image untuk tidak iri thd harta orang lain. Kehidupan mereka juga merupakan cermin berharga bagi para santri.

Moral Education di Jepang

Pelajaran moral kadang2 membosankan karena guru hanya menjelaskan dengan uraian panjang lebar, yang membuat anak dibuai dan dengan mata berat terpaksa mengikuti pelajaran. Selanjutnya untuk ujian mereka menghafal uraian guru hingga titik komanya. Di Jepang pendidikan moral, fenomenanya berbeda....(rewrite artikel di http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/moraled.html )


Setiap hari rabu di 2 pekan per bulan, saya mengikuti kuliah yg dikhususkan untuk ryuugakusei (foreign student), dan terutama bagi peserta Teacher Training. Bulan Juli ini ada suatu kuliah menarik dari Prof Mina Hattori, seorang wanita yg tertarik dengan pendidikan Islam. Beliau pernah mengadakan penelitian di sebuah pesantren putri di Padang.Hari itu, sensei membawa beberapa bundel buku tua yg ternyata adalah textbook moral education (doutokukyouiku) yg dipakai di sekolah Jepang sejak Meiji era.

Content dari buku yg dipakai untuk anak SD terkesan sangat sederhana. Anak kelas 1 SD diajari ttg perilaku kecil yg sehari-hari mereka temukan di lingkungannya, misalnya apa yg harus dilakukan jika mereka sedang bermain, dan memecahkan jendela tetangga ? Segera minta maaf, tidak boleh lari dari tanggung jawab. Contoh lain jika mendapati hewan terperangkap di dalam ruangan maka harus segera membuka pintu atau jendela untuk meloloskan mereka. Bahan bacaan sangat sederhana dan ditulis dg huruf katakana, dilengkapi dg gambar yg menarik dan berupa cerita dg beberapa tokoh. Ketika membaca itu seolah-olah anak digiring untuk menjadi pelaku utama dalam cerita.

Moral education di Jepang saat ini dianggap sangat urgent setelah belakangan ini terjadi dekadensi moral di kalangan pelajar Jepang. Angka bullying, truancy, violancy, dan suicide di sekolah meningkat secara signifikan, terutama di tingkat SMP, sehingga monbukagakusho menekankan kembali pembelajaran moral education dan guru diharapkan lebih memperhatikan perkembangan personality siswa.

Selain ttg moral education sensei juga memperkenalkan textbook sejarah, yg isinya didominasi dengan pesan berbau nasionalisme, pengabdian kpd tenon (emperor) dan beberapa obligatory untuk mengikuti wajib militer untuk keperluan perang .Setelah WW II berakhir, textbook mengalami reformasi, guru di kelas meminta siswa untuk memblok dg tinta hitam bagian yg berkaitan dg pengabdian kepada tenon, kegiatan ibadah di shrine yg juga mengaju kpd penghormatan kpd tenon, dan juga ilustrasi yg bermakna sama. Sehingga mereka hanya mempelajari hal2 yg berkaitan dg hubungan manusia sehari2.

Buku moral education yg dipakai sekarang adalah buku yg disusun oleh monbukagakusho (MInistry of Education) sejak 10-20 th yg lalu. Judul buku juga dibuat menarik. Tidak seperti di Indonesia buku PKPn tentu berjudul sama, PKPn. Tapi di Jepang judul buku disesuaikan dg isinya. Misalnya untuk kelas 3 SD judul buku adalah "Bagaimana menjaga keselamatan pribadi" (Jibun no Ansin). Content buku secara garis besar adalah bgm berperilaku di jalan, di dalam kendaraan umum. Apa saja permainan yg aman di dalam kelas ketika hari hujan. Bagaimana mereka berangkat dan pulang sekolah dg aman. Perbuatan apa yg tidak boleh dilakukan di tempat umum yg akan mengganggu orang lain.


Sangat berbeda dengan buku PMP yg saya pelajari dulu waktu SD, yg isinya menghafal butir2 Pancasila, atau menghafal norma2 baik di masyarakat tp pada kenyataannya kadang kala lupa untuk menerapkannya. Demikian pula dg buku agama yg isinya dominan hafalan ayat dan bacaan yg membosankan.Menurut saya sdh waktunya kita memperbaharui textbook yg kita pakai di sekolah. Sebaiknya Diknas tidak saja memberikan penjelasan dg bahasa Undang-undang kepada tim penyusun buku ajar di sekolah, tp lebih kepada practical sentence. (Saya mencoba mempelajari UU Sisdiknas 2003 dan puyeng juga membayangkan bentuk kongkritnya di lapangan). Bahasa yg dipakai dalam textbook sebaiknya menyesuaikan dg bahasa anak. Guru pun hendaknya memberi kesempatan anak untuk berpendapat lain, mengomentari materi dan pun mendengarkan pendapat temannya. Pembelajaran moral/akhlak bukan dengan memaksa anak menghafal tapi menanyai anak, apa pendapatnya , apa yang sebaiknya mereka kerjakan ? dan fungsi guru hanya meluruskan yang salah juga memberikan penjelasan kenapa itu salah. Guru pun dapat berfungsi sebagai fasilitator. Beberapa anak tentu mempunyai pendapat yang sudah benar, dan ini dapat dijadikan sebagai nara sumber bagi siswa yag lain. Guru harus memberi kepercayaan kepada anak ini untuk menjelaskan pendapatnya.

Begitulah pembelajaran moral yang saya pelajari di kelas dan pun saya amati dalam kunjungan sekolah2 di Jepang.


Jugyou Kenkyuu

Ketika guru mengajar, apakah dia mengetahui metodenya tepat ? pengajarannya efektif ? penggunaan waktunya efisien ? murid merespon dg baik ?
Guru tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dia harus dinilai oleh guru yang lain, dan berlapang dada menerima kritikan, ide, masukan membangun dari sesama guru. Itulah `jugyou kenkyuu` /lesson study (rewrite artikel di home page http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/jugyoukenkyuu.html


Professor Masami Matoba , seorang pakar yg mendalami classroom management di Nagoya University mengajak saya untuk mengunjungi salah satu sekolah di daerah Aichi prefecture, sebuah sekolah yg menjadi tempat pelaksanaan program jugyou kenkyuu.Fukushima chuugakkou (SMP) yg kami datangi adalah sebuah sekolah tua, didirikan 100 th yg lalu di daerah Tokai. Melihat apa yg ada di dalam sekolah, jejeran piala yg menyambut tamu di bagian depan sekolah, membuktikan bahwa sekolah ini layak dijadikan sbg tempat belajar bagi para educator, principal, pegawai diknas, mahasiswa, dll.

Program yg ingin kami amati adalah 'jugyou kenkyuu' , suatu program baru untuk meningkatkan mutu pengajaran di kelas, pun seklaigus memberikan appraisal kpd guru. Ada 2 kelas yg diamati, yaitu kelas science dan social study. Kelas science berlangsung di laboratorium, dengan materi fisika. Ketika guru fisika mulai mengajar, guru2 yg lain berdiri di dalam kelas mengamati jalannya pembelajaran, memberikan catatan pada point-point tertentu yg sudah ditetapkan bersama, misalnya berapa lama introduction, runut pemberian materi, interaksi dengan siswa, respon siswa, teknik menjelaskan materi, hingga closing pelajaran. Proses ini pun direkam oleh seorang guru dg video kamera.

Hari itu Kepala sekolah dan beberapa aparat dari Kyouikuiinkai (kanwil pendidikan) Tokai city dan dari daerah lain pun duduk di belakang ikut mengamati. Mereka pun ingin melihat implementasi program ini di lapang.Kejadian yg sama berlangsung di kelas social study. Guru menerangkan tentang profil seorang pemain Baseball terkenal di Jepang dan mengajak siswa untuk mendiskusikan rencana masa depannya. Kursi2 siswa disusun membentuk setengah lingkaran. Guru berada di tengah depan dengan peralatan in focus yang menampilkan slide si pemain baseball.

Setelah sekolah berakhir, semua murid pulang, para guru berkumpul untuk membahas hasil observasi mereka. Pembahasan dilakukan dalam dua kelompok, yaitu kelas science dan social.

Saya mengamati diskusi kelas science. Dinding depan ruang pertemuan ditempeli dg kertas putih besar berisi copy-an point-point pengamatan para guru, di antaranya : efektivitas waktu, kecepatan guru berbicara, respon siswa (ada yg mengantuk atau justru menyimak dg serius) respon guru thd pertanyaan siswa, praktek, alur pembelajaran, content yg disampaikan guru, dll.Satu persatu guru pengamat maju ke depan menyampaikan kritik dan penilaiannya, menempelkan kertas berwarna-warni berisikan komentar dan penilain mereka di lembaran kertas putih besar tadi. Wakil kepala sekolah, aparat pemerintah juga hadir, demikian pula guru fisika, tp dia tdk boleh memberikan komentar dulu. Setelah itu dibentuk kelompok diskusi yg lebih kecil, 3 kelompok untuk membahas lebih detil. Guru fisika berkeliling untuk mencatat content diskusi dan sesekali dimintai komentar ttg materi yg dia ajarkan. Selanjutnya hasil diskusi setiap kelompok kembali didiskusikan dalam kelompok besar.Acara terakhir berupa forum pertemuan besar yg dihadiri semua guru, principal, aparat pemerintah, dosen dan mahasiwa pengamat untuk menyampaikan kesan ttg program ini.

Saya sangat tersanjung karena pada sesi ini principal memberikan tempat duduk khusus di samping beliau. Mereka tidak mengelompokkan saya sebagai kelompok mahasiswa pengamat, tetapi menganggap saya sebagai tamu sekolah.

Kunjungan ini sangat bermakna bagi saya pribadi. Saya tdk tahu apakah ini sudah berjalan di Indonesia atau belum tp saya pikir perlu kita cobakan untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia.....

Sekolah di Countryside

Anak belajar dari rutinitas hidupnya. Anak belajar menghargai teman dari apa yang dibiasakan kepadanya. Kedisiplinan siswa2 di jepang tidak diajarkan melalui teori moral tetapi ditanamkan melalui latihan dan praktek sehari2 di rumah, sekolah dan lingkungannya. Tulisan ini adalah re-write artikel yang ada di homepage : http://www.geocities.com/moernier/tulisanku/kamiyahagi.html


Bulan Mei th 2005, saya mendapat kesempatan mengunjungi sekolah dasar (shougakko) dan SMP (chuugakko) di Kamiyahagi, Gifu ken. Salah satu prefecture yang masih sangat nature. Program yg saya ikuti adalah International Exchange, salah satu program yg sudah cukup lama dilaksanakan oleh pihak educational board Ena city, yg membawahi Kamiyahagi area, yang sebenarnya merupakan implementasi dari program yg sedang digalakkan monbukagakusho (Ministry of Education) Jepang dalam rangka menyiapkan anak2 Jepang menyongsong globalisasi.

Seperti halnya sekolah yg lain di Jepang, Kamiyahagi school pun berfasilitas lengkap, bersih, dan outdoor yg sangat luas. Keadaan ini sangat bertolak belakang dg jumlah siswa yg minim. Rata-rata kelas berisikan 10-20 anak, dan hanya ada satu kelas per grade-nya. Tidak seperti di Indonesia, ada 1A, 1B, sampai F barangkali. Hal yg membuat saya sangat iri adalah sekolah pun dilengkapi dg equipment yang canggih, slide projector, in focus, video, handy cam, digital camera, peralatan yg serba canggih, yg sepertinya sulit diadakan di Jakarta sekalipun. Fasilitas ini tidak hanya di beberapa sekolah, tapi merupaka hal yang umum di sekolah2 di Jepang.

Kegiatan kelas yg saya amati, diskusi dg principal, para guru memberikan kesan mendalam ttg nilai humanisme di sekolah. Sambutan yg ramah dari para staf, pun anak2 yang berwajah polos dg penuh rasa keingintahuan thd foreigner mengintip, tersenyum dari balik jendela2 kelas, mengingatkan saya pada masa kanak dulu.

Kelas 1 SD yg saya kunjungi pertama kali mengingatkan sy pada TK-nya Indonesia. Suasana kelas sangat fun, bernyanyi, gerak badan, sambil berkenalan dg angka dan huruf Jepang yg rumit. Ketika sy mempresentasikan ttg flora fauna Indonesia, seorang anak bertanya :'jenis mushi (insect) apa yg ada di Indonesia ?" Kelabakan saya menjawabnya krn keterbatasan bhs jepang, tp anak yg lain membantu sy dg membawakan ensiklopedi besar berisi daftar mushi yg ada di Jepang.. Subhanallah, mereka mengenal satu per satu. Ensiklopedi adalah hal yang biasa bagi para siswa SD, textbook yg menarik ini tersedia di setiap kelas, bukan di perpustakaan.

Pembelajaran ttg alam, serangga misalnya adalah salah satu hal yang menarik di Jepang , karena anak tidak dikenalkan dengan nama serangga lalu diminta untuk menghafalnya, tetapi anak diajak untuk jalan2 ke hutan, ke sungai, ke halaman sekolah, menangkap serangga dan memeliharanya. Yang selanjutnya mempelajari hidup serangga. Bahkan ketika sy mengikuti program home stay di Mie prefecture, sy pun mendapati anak host family memelihara mushi di dalam box khusus yg banyak dijual di toko. Pelajaran lain yg bisa dipetik dari metode ini, adalah melatih sense of responsibility anak, krn setiap hari binatang2 itu harus diberi makan, dicek kelembaban kandangnya, dll.

Kelas lain yg saya kunjungi adalah kelas 4. Siswa kelas 4 di Jepang sdh mulai mengenal kanji, karakter terumit dalam bahasa Jepang yang merupakan adopsi dari karakter bahasa China. Seperti halnya anak kelas 1, siswa di sini pun berani bertanya, dan suasana kelas menjadi ramai. Satu per satu memperkenalkan nama, hobi dan menunjukkan kebolehannya, mis : salto, bermain yoyo (mainan tradisional jepang). Terlihat sekali anak tidak hanya dilatih kecerdasannya tetapi pun perkembangan fisik. Ini pun saya perhatikan ketika saya bermain bersama mereka di lapangan yang sangat luas dan asri karena dikelilingi hijaunya pegunungan. Semua anak terlihat sehat dan lincah bergerak, berlari kesana kemari.


Saya juga diberi kesempatan untuk menikmati makan siang bersama students kls 4. Di Jepang lunch disiapkan oleh sekolah dan tidak ada kantin atau warung di sekitar sekolah. Jadi tidak mungkin jajan di luar. Menu hariannya dirundingkan antara siswa, guru dan orang tua. Sekelompok siswa mengenakan pakaian ala koki dan bertugas melayani siswa2 yg lain. Sensei (guru) pun tetap berada di kelas dan ikut menikmati makan siang bersama sambil memeriksa tugas siswa, sesekali bertanya dan menjawab pertanyaan siswa. Sungguh suasana yg begitu akrab. Selama makan, terdengar siaran radio dari siswa kls 6 menginfokan menu hari ini, gizinya, kecukupannya, mengapa kita harus banyak makan sayur, daging, buah, susu, dll. Apakah harus dimakan dalam keadaan hangat, dingin....hal2 kecil yg tidak terlintas dalam benak saya. Saya pun dimintai tanggapan oleh seorang siswa kelas 6 ttg menu hari ini, sebelum siaran radio itu berlangsung.

Selesai makan, pemandangan baru lagi yg saya lihat. Anak2 bergegas keluar kelas, mencuci tangan, mengambil sikat gigi dan gelas mungilnya, di tempat semacam wastafel besar yang disiapkan di depan kelas. Kemudian mereka masuk ke kelas....acara gosok gigi bersama dimulai sambil dikomandoi oleh seorang siswa melalui siaran radio, dan didiringi musik klasik yang ceria. hidari (kiri)....migi (kanan).....ue (atas)....shita (bawah)......sungguh program yg multifungsi. Kegiatan gosok gigi di sekolah ternyata tidak hanya di SD, SMP or SMA, tapi mahasiswa dan para dosen pun rutin mengerjakannya di kampus. Tentu saja pegawai di perkantoran.

Terakhir sebelum pulang, shoji suru......acara bersih sekolah. Anak kls 4,5,dan 6 membimbing anak kels di bawahnya membersihkan toilet, ruang aula, tangga, mengepel ruang kelas. Sekolah di Jepang tidak memperkerjakan pesuruh untuk membersihkan sekolah, tp dibebankan kepada anak dan guru. Sampah kertas, plastik, ludah dll tidak akan kita jumpai di sini. Bersih, bersih...lantai pun licin. Siswa menggunakan sepatu kets khusus di dalam bangunan sekolah. Ketika mereka tiba di sekolah, sepatu harus diganti dan diletakkan di dalam loker yang tersedia di pintu masuk.

Kunjungan berikutnya, adalah SMP. Sama dg SD, sekolah ini juga sangat luas dengan murid yang juga minim. Yang memukau dari kunjungan ini adalah para siswa begitu faham tentang kampung halamannya di mana sekolah mereka berada. Mereka tahu ikan jenis apa yanga ada di sungainya, pohon tertua yg ada di desanya, sakura yg tertua....saya terinspirasi untuk menanamkan juga kepada para murid saya kecintaan dan keinginan untuk melestarikan apa yg ada di kota, desa, kampung tempat mereka dibesarkan dan menikmati masa kecilnya.


Hal kedua yg membuat saya kagum adalah ketika para siswa kelas 2 menyanyikan lagu hymne sekolah, suara mereka merdu sekali. Ini pasti karena pelajaran musik yg serius yg mereka terima, siswa tidak sekedar mengeluarkan suara tapi betul2 menikmati syair, dan mengenal tangga nada dg baik. Setiap sekolah di Jepang mempunyai hymne yang dinyanyikan oleh para siswa dengan penuh kebanggaan.

Inilah pemandangan sekolah di kampung di Jepang, yang walaupun di kampung, tetapi fasilitasnya menyamai sekolah elit di Jakarta.

Saya tidak berharap banyak Diknas akan mensuply SD/SMP di Indonesia dg fasilitas serba mewah tersebut, tetapi saya yakin kita akan menuju ke sana....suatu saat.
Sebagai guru, saya belajar banyak tentang sistem,yg saya yakin dapat diterapkan walaupun fasilitas seadanya. Sekolah saya pun terletak di countryside, kaya sekali dengan sumber daya alamnya, hanya saja kami belum memanfaatkannya secara maksimal.

Wednesday, May 10, 2006

Parent come to school...


As a parent, have you ever thought what teacher do to your children in the class ? how they teach them ? or have you ever considered your children behaviour at school ?

I believe all parents who have children studied at school have a big curiosity what actually happened at school, but they do not have a chance to interact deeply with school community, especially in most of under developed or developing countries.

Since the case of violences, bullying, truancy etc increased in Japanese schools in 1980s, Ministry of Education asked parents and local community to pay attention in children safety, particularly children education at school. It means create the future of children does not depend on the hand of teacher only, but parents should play their role also.

One of the stake holder which ask seriously to play a main role is PTA (Parent Teacher Association) which is introduced in Japanese educational system since 1946 when US mission of educational reform came to Japan after World War II. The main purpose of PTA at that time was furthering the democratic education system, but recently have changed to be more represent japanese real condition. Not just spread the idea of freedom but parents in japan asked to create good learning circumstance, joyful atmosphere of learning for their children. Therefore, parents invited quiet often to see the school`s activities.

One of them is `jugyou sanka` , means parents attend the class and observe the learning process there. Through this activity, parents are expected to know the real situation that teachers have to face, what a difficult of their duties, and finally parents are also supposed to think how to improve their children educational process. At the same time parents have a chance also to evaluate the teachers directly and suggest them for improving the teaching methodology or just inform them about the specific behaviour of the kids and how to deal with this problem.

Recently, PTA`s activities in Japan are spreading in many kind of activities, not just jugyou sanka but also join in `kondankai`, an event conducted to do some interesting activities for children, for example traditional festival, sport competition, culture event, etc.

Regarding to that fact, i was thinking about parent participation in educational matters in my country. In Indonesia, people still have strong opinion that parent participants means some donation to develop the school facilities. This narrow minded seems unsuitable if we think that parents have a big potency to improve the educational system at school. Their `brilliant` idea sometimes come up and school administrators have to consider. Particularly in the era of the implementation of School Based Management, I think school should encourage them to share more participation in order to develop the education which can produce the students with enough knowledge, strong personality, skillful, creative and innovative.

We must reconstruct our parent association system.....