Bilik Belajar Murni Ramli

Pendidikan adalah hal yang sejak kecil hingga kini kudapatkan baik di sekolah, keluarga maupun lingkunganku. Tapi belum pernah kutekuni apa sebenarnya `Pendidikan` itu. Bilik ini adalah ruang belajarku memahami apa makna pendidikan yang berhasil ditangkap oleh mata dan batinku. Sebagian adalah figure pendidikan di Jepang, tempatku sekarang belajar menyelami makna kata `pendidikan`

Tuesday, May 02, 2006

Guru Baik, Guruk Jelek...Kata siapa ?

Hari ini di kelas PDP seminar, kami masih membahas tentang sistem evaluasi tenaga pendidik di Jepang. Masalah yang hingga kini masih dalam status kontroversi, apakah akan diteruskan atau tidak.

Evaluasi guru di Jepang sebenarnya telah dilakukan di masa restorasi Meiji, dan kembali merebak belakangan ini sehubungan dengan isu New Public Management yang berimbas kepada keinginan pemerintah untuk menekan biaya-biaya publik. Melalui suatu mekanisme penilaian, guru dinilai dan diranking berdasarkan hasil evaluasi, yang berdasarkan hasil evaluasi gaji guru ditentukan.

Evaluasi dilakukan oleh siswa, orang tua dan pihak educational board. Di Nagoya, sistem ini dijalankan setiap bulan Februari. Di saat itu guru, kepala sekolah dan tenaga administrasi lainnya disibukkan dengan mengisi sebundel laporan, menjawab interview, questioner. Benar2 pekerjaan yang melelahkan.

Selain bertujuan untuk memangkas biaya, evaluasi sebenarnya memiliki fungsi lain yaitu memperbaiki mutu sekolah atau dalam istilah di Jepang dikenal dengan `gakko dukuri`. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah evaluasi yang dilakukan saat ini benar2 berimbas kepada peningkatan keberhasilan `program gakko dukuri` atau justru tidak sama sekali. Guru di lapang menjawab, `TIDAK`.

Yang terjadi justru energi guru habis untuk mengurusi evaluasi ini dan prestasi siswa tidak berimbas sama sekali, malah karena sibuknya, beberapa guru terpaksa menyuruh siswa untuk belajar sendiri demi mempersiapkan ujian akhir, sebab guru tidak punya waktu lagi untuk menyelesaikan segala persyaratan evaluasi.

Menurut saya evaluasi adalah salah satu proses yang mutlak ada untuk menilai suatu keberhasilan kerja. Saya sangat mendukung pelaksanaanya, tetapi perlu dikaji kembali apa sebenarnya esensi evaluasi ? Jika evaluasi ditujukan untuk mengkategorikan gaji guru, maka saya pikir ini tidak fair. Sebab realitas pekerjaan guru di Jepang yang dimulai dari pukul 6 pagi hingga larut malam, sudah selayaknya dihargai maksimal.


Evaluasi menurut saya harus dikembangkan dalam dua kerangka penilaian yaitu penilain inside (self evaluation) dan penilaian outside (public evaluation).

Dalam rangka pengembangan konsep `gakkou dukuri` , beberapa sekolah telah melaksanakan `self evaluation system` yang lebih dikenal dengan jiko hyouka. Menurut saya ini lebih bermakna riil evaluasi. Karena dalam prosesnya penilaian dilakukan oleh siswa dan orang tua. Bukankah subjek dari pengajaran adalah siswa ? dan orang tua yang walaupun bukan subjek pengajaran tetapi mereka berperan sebagai pengamat langsung perkembangan siswa. Jadi menurut saya hasil jiko hyouka sudah cukup untuk menilai apakah seorang guru baik atau buruk tata pengajarannya. Selain itu sekolah pun mempunyai sistem penilaian terhadap siswa. Jika siswa memperoleh score di atas rata2 atau target, maka tentu saja salah satu faktornya adalah gurunya baik dalam menjelaskan materi pelajaran.

Data2 jiko hyouka dari masing2 sekolah dapat digunakan oleh Kyouikuiinkai (educational board) untuk mengembangkan sistem evaluasi berikutnya, yaitu sistem evaluasi dari outsider (public evaluation). Yang perlu diperhatikan oleh pihak kyouikuiinkai adalah content evaluasi. Content evaluasi sebaiknya tidak merupakan duplikasi dari jiko hyouka, pun tidak berkaitan dg syllabus, materi pengajaran dan sebagainya, karena sekolah2 di Jepang punya data lengkap tentang hal ini, sehingga informasi tentang hal ini dapat di-copy paste saja.

Masalah terberat evaluasi di bidang sosial adalah penilaian yg dilakukan terhadap sesuatu yang lebih bersifat qualitatif, dan tentunya jawaban yang diberikan belum tentu seratus persen benar. Misalnya untuk menjawab pertanyaan `Sampai sejauh mana pencapaian tujuan sekolah anda saat ini ?` Jawaban yang disediakan adalah A=sangat baik, B=baik, C=cukup, D=kurang. Pertanyaan ini adalah salah satu content evaluasi untuk kepala sekolah. Menurut saya pertanyaan ini `mazui` (kurang tepat) ! Seandainya tujuan sekolah dijabarkan dengan target yang jelas, misalnya untuk tujuan `gakuryoku takameru tameni` (peningkatan prestasi siswa), maka tergetnya adalah score ujian seluruh siswa melampaui target score sekolah, katakanlah matematika, 70. Atau indikator lain siswa yang lulus ujian masuk PT, 50%. Dengan meng-quantitative-kan sesuatu yg qualitative, saya pikir akan lebih mudah untuk menjawab pertanyaan di atas.

Jadi apa sebenarnya yang diperlukan ?

Ide saya, jika autonomi benar2 diberikan kepada daerah/lokal, maka cobalah kyouikuiinkai merumuskan tujuan sekolah dengan penjabaran target yang akurat di masing2 wilayahnya. Tentu saja dengan melihat situasi riil di sekolah.

Bisa nggak ya ....?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home