Bilik Belajar Murni Ramli

Pendidikan adalah hal yang sejak kecil hingga kini kudapatkan baik di sekolah, keluarga maupun lingkunganku. Tapi belum pernah kutekuni apa sebenarnya `Pendidikan` itu. Bilik ini adalah ruang belajarku memahami apa makna pendidikan yang berhasil ditangkap oleh mata dan batinku. Sebagian adalah figure pendidikan di Jepang, tempatku sekarang belajar menyelami makna kata `pendidikan`

Friday, June 16, 2006

Penelitian yang Mubazir

Dari mana harus memulai penelitian ? Apa yang harus diteliti ? Siapa yang harus dijadikan objek penelitian ?

Pertanyaan-2 tersebut adalah hal yang tidak mudah untuk dijawab.
Pembelajaran saya akhir2 ini dipenuhi dengan ide `research`. Di kelas, diskusi, dan seminar yang saya hadiri, semuanya menampakkan nuansa ketidakpercayaan diri tentang penelitian yang akan,sedang atau telah dilakukan.

Ketika saya kuliah di IPB, banyak sekali penelitian bermutu yang dihasilkan oleh mahasiswa, dosen yang ternyata tak bernilai apa2 ketika saya bertemu muka dengan petani. Banyak karya kita yang tidak bisa mereka aplikasi, tidak membumi. Universitas bagai menara gading.
Pun ketika saat ini saya berada di Jepang, begitu banyak penelitian tentang pendidikan yang telah dilakukan, tetapi para guru di sekolah2 tidak mengetahuinya. kalaupun mereka mengetahuinya, tak dpat pula mereka menerapkannya.

Banyak teori tentang perbaikan dan pengembangan sekolah yang disusun sehingga menjadi buku panduan, lengkap dengan struktur dan step penerapannya. Tetapi itupun tidak juga menarik minat para pendidik di sekolah2.

Penelitian semestinya berakar dari masalah yang dihadapi oleh guru, murid atau orang tua di sekolah. Ketika sebagian besar siswa tidak dapat lulus ujian, maka perlu diteliti mengapa dan bagaimana memecahkan masalah ini. Ketika angka bunuh diri, absensi bahkan keengganan bersekolah meningkat, maka harus dibuat penelitian dari sekolah dan keluarga. Pun ketika organisasi sekolah tidak bisa berkembang baik, maka teori seharusnya lahir dari permasalahan yang dihadapi di sekolah.

Jika penelitian berbasis sekolah dilakukan, maka tentunya hasil yang diperoleh tidak bisa berlaku sama di seluruh negeri, sebab objek penelitian memiliki kondisi yang berbeda. Sama halnya dengan ketika semua orang mengatakan School Based Management adalah sistem yang jempolan saat ini dan hendaknya diterapkan di semua negara termasuk Indonesia saat ini, maka yang akan terjadi adalah kebingungan di kalangan para pendidik di lapangan.

Agar penelitian tidak mubazir, maka hendaklah bersumber dari fakta dan masalah yang nyata.

Monday, June 05, 2006

Apa yang salah dengan Sekolah Kita ?

......Dia menyebutkan maraknya program bimbingan tes di sekolah itu juga merupakan sesuatu yang keliru dan melenceng dari peran sebenarnya sekolah.
....... "Alokasi jam belajar di sekolah sebenarnya sudah cukup untuk menyiapkan anak didik menghadapi Ujian Nasional, tanpa perlu ikut bimbingan tes. Kalau siswa merasa masih ada yang kurang serta membutuhkan bimbingan tes, justru hal itu yang menjadi pertanyaan, apakah ada sesuatu yang salah di sekolah tersebut?," katanya. (rri-hf)
....... Sumber : RRI online Rabu, 17 Mei 2006, 06:04 WIB
http://www.rri-online.com/modules.php?name=Artikel&sid=21848

Cuplikan wawancara di atas adalah hasil wawancara RRI dengan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Bedjo Sujanto yang diposting di milis pakguruonline.yahoogroups.com , 4 Juni 2006.

Petanyaan/Pernyataan Pak rektor sejalan dengan pikiran saya beberapa bulan yang lalu, saya begitu kesal dengan sekolah, dengan para guru yang gagal atau para guru yang tidak mau maju. Para guru yang hanya memikirkan uang, kepala sekolah yang di kepalanya hanya ada rencana mengoleksi dana sebanyak mungkin, lupa bahwa sekolah adalah organisasi non profit, institusi untuk mendidik manusia.
Tapi belakangan ini saya mulai rethinking pernyataan tersebut.

Kasus ujian nasional tidak hanya diterapkan di Indonesia, di Jepang pun hal yang sama harus dihadapi oleh anak SMA, hanya bedanya ujian nasional di Jepang adalah untuk mendapatkan kursi di PT, bukan sebagai tolok ukur kelulusan (lih. tulisan di blogger ini ttg Ujian Nasional) seperti halnya di Indonesia.

Sejak awal diterapkan hingga kini, tindakan `jisatsu` (bunuh diri) merebak di seantero Jepang. Tentu saja bukan hanya Ujian Nasional itu yang menjadi faktor pemicunya, tetapi kondisi belajar di sekolah yang dibuat dengan tujuan lolos ujian nasional masuk PT, membuat siswa sangat tertekan. Tiap hari PR menumpuk, pembelajaran di sekolah pun sangat strict dengan beban tugas yang berat. Dengan metode pembelajaran seperti itu saja, dianggap belum menjamin kelulusan siswa dalam ujian nanti, sehingga mereka pun terpaksa pergi ke `juku` (cram school) untuk belajar secara privat mata pelajaran yang diujikan.

Pemerintah Jepang akhirnya berusaha melonggarkan tekanan ini dengan memperkenalkan `shougotekinakamoku` dan `yutori kyouiku`. Kata yang pertama bermakna integrated course, dimana siswa belajar lebih banyak ttg masa depannya, lingkungannya dan kehidupan manusia di sekitarnya. Pelajaran ini sangat kental efeknya dalam menjadikan generasi muda Jepang tidak sekedar kaya di pemikiran tetapi peduli dengan orang sekitarnya. Sedangkan yutori kyouiku adalah memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi kepada siswa dalam mengembangkan dirinya. Dengan program ini siswa biasanya sudah dapat mengukur apakah dia dapat lolos ujian nasional atau tidak ? Jika tidak, maka siswa boleh memilih kelanjutan studinya apakah masuk private univ, atau college school. Selanjutnya dia tinggal menekuni bidang studi apa yang terkait dengan pilihannya itu.

Kedua program ini pun masih perlu ditinjau karena mendatangkan dampak negatif lainnya, yaitu menurunnya prestasi belajar anak2 Jepang, dan menurunnya semangat kompetisi di antara mereka.

Tetapi, dengan kondisi ini saya pikir, sekolah barangkali sudah menerapkan proses belajar mengajar yang benar, sekolah mungkin tidak salah. Bahkan salah kalau sekolah hanya dijadikan arena kawah candradimuka untuk menggembleng siswa supaya lulus ujian nasional.

Sekolah menurut saya adalah tempat mendidik supaya anak menjadi `orang dewasa` yang dapat memainkan perannya di masyarakat. Terlalu ideal barangkali, tetapi jika kembali kepada makna pendidikan, maka jelaslah bahwa tidak hanya otak yang harus dididik, tetapi organ lain dari anak pun harus dikembangkan. Saya kutip perkataan Prof.Ueda ketika menafsirkan tujuan pendidikan di sekolah2 di Jepang, `pendidikan adalah mengembangkan tubuh, otak, dan jiwa/hati anak`.

Pendidikan di Jepang barangkali berbeda dengan pendidikan di dunia barat yang lebih menitikberatkan kepada pengembangan otak, tetapi tujuan pendidikan di Jepang ditetapkan berdasarkan fakta di lapang, bahwa anak2 Jepang harus tumbuh sebagai manusia Jepang sekaligus manusia dunia.

Pernyataan lain dalam wawancara di atas yang menurut saya pun salah adalah : ` mengapa harus ikut les untuk lolos ujian nasional ?
Pernyataan ini sedikit banyak menggugat profesi guru. Dengan kata lain guru tidak berhasil mengajar siswa, proses belajar di sekolah telah gagal ! Sebagai guru, tentu saja saya tidak mau diklaim gagal, saya ingin mengajak untuk merenungkan kembali apa sebenarnya tujuan pendidikan menengah ? Apakah sekedar lulus ujian nasional ? Sudah saya cari dalam pasal2 UU Sisdiknas 2003, bukan ujian nasional tujuan pendidikan menengah di Indonesia, tetapi lebih kepada menyiapkan anak didik, orang2 muda Indonesia usia 17-18 tahun untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya, menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Dan ini menjadi bias maknanya ketika guru dihadapkan pada target lulus ujian nasional 100%. Kami para guru akhirnya lalai dari tujuan utama kami untuk `mendidik` tapi kami cenderung untuk `mengajar` bagaimana agar target lulus tercapai. Tentu saja guru sudah berusaha untuk sedekat mungkin dengan materi ujian, tetapi tetap saja kami tidak bisa mengajar ala guru privat yang menjejali anak dengan teknik tercepat, metode teringkas ketika dihadapkan pada soal ujian. Karena materi yang diajarkan di sekolah tersusun dalam silabi pembelajaran berdasarkan kurikulum dan plan yang sudah ditetapkan awal tahun. Dan parahnya lagi, materi ajar terlalu overload, waktu kami habis untuk mengejar penuntasan seluruh materi ajar, tidak ada waktu memperkenalkan trik kepada anak. Jadi kami tidak bisa menyalahkan siswa jika mereka menggunakan waktu di luar sekolah, untuk les privat.

Sebagai guru MA saya yakin 99% materi ujian sudah saya ajarkan kepada siswa, tetapi kondisi dan daya tangkap siswa tidak sama. Bahkan kondisi ketika mereka ujian pun harus dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mengerjakan soal2 ujian. Saya memang merasa gagal sebagai guru, ketika ada murid saya yang tidak lulus, walaupun hanya satu orang. Walaupun tidak ada dari siswa kami yang ikut les privat, tetapi kondisi les privat yang marak membuat saya malu, mengaku sebagai guru.

Tetapi tidak layak kiranya mengkambinghitamkan guru sebagai pemicu ketidaklolosan siswa. Saya justru mempertanyakan para penyusun materi ujian. Siapakah mereka sebenarnya ? Apakah mereka para guru atau mantan guru yang mengajar di SMA ? ataukah mereka hanyalah orang2 yang melihat kondisi pembelajaran di sekolah melalui report, dan mulai membuat soal berdasarkan textbook, tanpa pernah sekali pun bagaimana materi ujian itu diajarkan di sekolah ? Bagaimana pencapaian siswa, pemahaman siswa terhadap materi tersebut ? Saya pun ingin mengkambinghitamkan para penyusun textbook, pihak diknas yang merelease textbook tersebut. Buku2 ajar tersebut tidak berkaitan dengan tujuan pendidikan yang tertera di UU Sisdiknas 2006. Kami belajar dan mengajar sesuatu yang di awang2, yang ada di negeri entah berantah, jauh dari apa yang dilihat mata siswa, didengar oleh telinga mereka, diraba oleh tangan mereka, dicium oleh hidung, dan dirasakan oleh lidah, dengan kata lain, textbook mengajarkan ttg kehidupan manusia/alam lain, bukan memperkenalkan kehidupan sehari2 siswa sebenarnya. Jadi bagaimana dapat mengharapkan mereka mengerti sesuatu jika kita hanya mendidik otaknya, tanpa melatih organ tubuh yang lain supaya sinkron dengan kerja otak ?

Jadi apa yang salah dengan sekolah kita? Apakah guru ? kepala sekolah ? kurikulum ?
Yang salah bukan mereka, yang salah adalah kita (pemerintah) yang menjiplak cara orang lain, mengintroduksi sistem barat tanpa mengasimilasikannya dengan fakta sekolah, fakta murid, fakta alam, fakta budaya, fakta agama, fakta daya pikir, dan aneka fakta yang lain.....